Home pekerjaan dan karier



Pernah nggak sih kepikiran, sebenarnya lebih baik kita menjadi orang yang jago banget di satu bidang, atau menjadi orang yang bisa banyak hal?

Kalau pertanyaan ini diberikan kepada saya beberapa tahun lalu, mungkin jawaban saya cukup cepat:

Saya pilih generalist.

Kenapa?

  • Karena rasanya menyenangkan ketika kita bisa mengerti banyak hal.
  • Ada komputer bermasalah, sedikit mengerti.
  • Ada masalah jaringan, coba lihat.
  • Ada database, bisa ikut utak-atik.
  • Ada website, bisa belajar.
  • Ada desain sedikit-sedikit, ya dicoba juga.

Ada pekerjaan yang sebenarnya bukan bidang utama kita, tetapi karena pernah bersentuhan sebelumnya akhirnya masih bisa mengikuti pembicaraan.

Kesannya jadi orang yang cukup bisa diandalkan.

Dan dulu saya menganggap itu merupakan sebuah kelebihan yang cukup besar.

Ternyata lama-lama saya menyadari bahwa persoalannya tidak sesederhana specialist vs generalist.

Generalist memang menyenangkan Saya memang sejak dulu lebih nyaman menjadi orang yang memahami banyak hal. Mungkin salah satunya karena ketika kuliah pun saya merasa diarahkan untuk mengetahui banyak hal. Tidak terlalu dalam pada satu bidang tertentu, tetapi paling tidak memahami gambaran besarnya. Dan sebenarnya kemampuan seperti ini memang berguna.


Saat berbicara dengan orang yang berbeda bidang, kita masih bisa mengikuti. Ketika ada masalah baru, kita tidak terlalu takut untuk mencoba mempelajarinya. Bahkan kadang kita bisa menjadi semacam penghubung antara orang-orang yang mempunyai keahlian berbeda.

Misalnya orang teknis mengatakan sesuatu dengan bahasa yang sangat teknis. Sementara orang operasional hanya ingin tahu:

"Jadi masalahnya apa dan bisa diperbaiki atau tidak?"

Nah, orang generalist biasanya cukup nyaman berada di tengah-tengah situasi seperti itu. Dia mungkin bukan orang yang paling ahli. Tapi setidaknya dia mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh kedua belah pihak.

Dan menurut saya, kemampuan seperti ini cukup berharga. Tapi ada masalah menjadi orang yang "bisa sedikit semuanya"

Semakin lama saya bekerja dan melihat orang-orang dengan kemampuan berbeda, saya mulai menyadari kelemahan menjadi generalist.

Kita memang tahu banyak hal. Tetapi ketika ditanya:

"Sebenarnya keahlian utama kamu apa?"

Kadang malah bingung menjawabnya. Karena semuanya terasa bisa.

Tapi kalau dibandingkan dengan orang yang memang benar-benar mendalami satu bidang selama bertahun-tahun, kemampuan kita tentu belum tentu sebanding. Di situlah saya mulai memahami kenapa specialist mempunyai nilai tersendiri.


Seorang specialist biasanya punya sesuatu yang sulit digantikan. Ketika masalah tertentu muncul, orang tahu harus mencari siapa.

Misalnya:

Ada masalah database yang sangat rumit, cari orang database.

Ada masalah security, cari security engineer.

Ada masalah jaringan yang sudah tidak masuk akal, cari orang network.

Karena mereka memang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendalami bidang tersebut. Sementara seorang generalist kadang berada di posisi yang agak aneh. Banyak hal bisa dikerjakan. Tetapi tidak banyak yang benar-benar menjadi senjata utama. Apalagi kalau masih fresh graduate.


Orang lain mungkin sudah mempunyai satu kemampuan yang sangat kuat, sedangkan kita baru mempunyai banyak kemampuan yang semuanya masih "lumayan". Dan dari situ saya mulai merasa: Sepertinya menjadi generalist saja juga belum cukup. Lalu saya mengenal istilah 

T-Shaped Person 

Sampai akhirnya saya menemukan sebuah istilah yang menurut saya cukup menggambarkan kondisi ideal antara specialist dan generalist.

Namanya: T-Shaped Person.

Saya pertama kali mengenalnya dari konten Instagram @bapak2id. Akun yang menurut saya termasuk salah satu akun paling happy se-jagad Instagram. 😄 Ketika melihat ilustrasinya, konsepnya ternyata sederhana sekali.

Bayangkan sebuah huruf T. Bagian horizontalnya menggambarkan pengetahuan yang cukup luas di berbagai bidang. Sedangkan bagian vertikalnya menggambarkan satu bidang yang benar-benar kita kuasai secara mendalam. Jadi bukan memilih: Specialist ATAU Generalist. 

Tetapi mencoba menjadi: Generalist yang mempunyai satu spesialisasi kuat.

Dan entah kenapa ketika membaca konsep itu pertama kali, saya langsung berpikir:

"Nah... ini kayaknya lebih masuk akal."

Bentuknya sederhana, tapi maknanya cukup dalam Kalau hanya menjadi specialist, bentuknya bisa dibayangkan seperti huruf I. Dalam sekali di satu bidang. Tetapi pengetahuan di luar bidang tersebut relatif terbatas. Sedangkan generalist bisa dibayangkan seperti garis horizontal. Lebar. Tahu banyak hal. Tetapi tidak terlalu dalam.

T-Shaped mencoba menggabungkan keduanya. Kurang lebih seperti ini: 


Bagian horizontal:

Kita memahami berbagai hal yang berkaitan dengan pekerjaan atau lingkungan kita.

Bagian vertikal:

Ada satu kemampuan yang benar-benar kita bangun sampai menjadi keahlian utama. Dan menurut saya justru ini yang cukup realistis di dunia kerja sekarang. Karena pekerjaan semakin jarang berdiri sendiri.

Di dunia kerja, satu keahlian sering bersinggungan dengan banyak hal Ambil contoh bidang IT.

Orang yang bekerja di IT hampir tidak mungkin hanya memahami satu hal saja. Seorang programmer mungkin tetap harus memahami sedikit database. Sedikit server. Sedikit jaringan. Sedikit security. Sedikit cara pengguna bekerja. Bahkan kadang harus memahami proses bisnis perusahaan.

Begitu juga orang jaringan. Mungkin fokusnya networking, tetapi tetap akan bersinggungan dengan server, firewall, aplikasi, database, cloud, dan sebagainya. Kalau hanya memahami bidangnya sendiri tanpa sedikit memahami dunia di sekelilingnya, komunikasi bisa menjadi lebih sulit. Inilah menurut saya keuntungan bagian horizontal dari T-Shaped. Kita tidak harus menjadi ahli semuanya. Cukup mengerti. Supaya ketika berbicara dengan orang yang memang expert di bidang tersebut, kita masih memahami konteksnya.

Saya sendiri baru sadar kalau selama ini arahnya memang ke sana Kalau melihat perjalanan saya sendiri, mungkin sejak awal saya memang cenderung generalist. Saya suka mencoba banyak hal. Kadang justru terlalu banyak. Mulai dari hardware, jaringan, server, database, website, aplikasi, dan berbagai hal teknis lainnya. Kalau ada sesuatu yang belum pernah saya kerjakan, biasanya justru muncul rasa penasaran:

"Ini sebenarnya cara kerjanya bagaimana?"

Masalahnya adalah rasa penasaran itu kadang membuat kita terus berpindah ke hal baru.

Hari ini belajar A. Besok melihat B menarik. Lusa pindah ke C.Akhirnya banyak tahu...tapi semuanya setengah matang. 😅 Di situlah menurut saya konsep T-Shaped menjadi pengingat yang bagus.

Tidak masalah mempelajari banyak hal. Justru bagus. Tetapi tetap harus ada satu bagian yang terus digali lebih dalam. Satu kemampuan yang suatu hari ketika orang mempunyai masalah tertentu, mereka langsung teringat kepada kita.

T-Shaped bukan berarti harus ahli dalam satu hal selamanya. Ini juga bagian yang menurut saya menarik. Bidang vertikal dari huruf T itu tidak harus berarti kita memilih satu keahlian saat umur 20 tahun lalu mengerjakannya sampai pensiun.

Dunia berubah. Teknologi juga berubah. Pekerjaan kita bisa berubah. Bahkan minat kita sendiri bisa berubah. Yang penting adalah mempunyai kedalaman, bukan hanya lebar pengetahuan.

Hari ini mungkin kita mendalami networking.

Beberapa tahun kemudian bisa bergeser ke server.

Kemudian automation.

Kemudian data.

Yang penting jangan sampai hidup kita hanya menjadi: 

"Pernah coba."

Pernah coding.

Pernah database.

Pernah desain.

Pernah server.

Pernah semuanya.

Tetapi ketika diminta menunjukkan satu kemampuan yang benar-benar kuat... malah tidak ada. 

Kenapa orang T-Shaped menurut saya cukup dibutuhkan? Ada beberapa alasan yang menurut saya terasa nyata di dunia kerja.

Pertama, lebih cepat beradaptasi.

Karena sudah terbiasa memahami banyak bidang, ketika teknologi atau pekerjaan berubah kita tidak benar-benar mulai dari nol.

Kedua, lebih mudah berkomunikasi dengan orang berbeda bidang.

Kita mungkin bukan expert di bidang mereka. Tetapi paling tidak kita memahami istilah dan cara berpikirnya. Kadang masalah di pekerjaan sebenarnya bukan karena orang tidak pintar. Tetapi karena dua orang pintar berbicara menggunakan bahasa masing-masing. 😄

Orang T-Shaped bisa cukup berguna menjadi penghubung di antara keduanya.Ketiga, tetap mempunyai nilai spesialisasi. Ini bagian yang menurut saya penting. Karena pengetahuan luas saja mungkin membuat kita fleksibel. Tetapi pengetahuan mendalam membuat kita mempunyai sesuatu yang bisa benar-benar diandalkan.




Jadi, specialist atau generalist?

Kalau sekarang saya mendapatkan pertanyaan:

Lebih baik menjadi specialist atau generalist?

Jawaban saya mungkin sudah berbeda dibandingkan dulu.

Saya tidak ingin benar-benar memilih salah satunya. Saya lebih suka mencoba menjadi T-Shaped Person. Tetap belajar banyak hal. Tetap penasaran terhadap bidang lain. Tetap mencoba memahami cara kerja sesuatu di luar keahlian utama.

Tetapi pada saat yang sama, jangan lupa menggali satu bidang lebih dalam dibandingkan yang lain. Karena menurut saya dunia kerja tidak selalu membutuhkan orang yang tahu semuanya. Dan juga tidak selalu membutuhkan orang yang hanya tahu satu hal.

Kadang yang paling berguna justru orang yang bisa mengatakan: 

"Saya cukup mengerti banyak hal, tapi untuk yang satu ini, saya memang benar-benar mendalaminya."


Dan mungkin itulah titik tengah yang selama ini saya cari.

Bukan Jack of All Trades saja. Bukan juga hanya Master of One. Tapi mencoba menjadi sedikit dari keduanya.Membentuk sebuah huruf sederhana:

T.

Baca juga :

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Punya pertanyaan, saran, atau kritik seputar topik ini? Yuk, tulis di kolom komentar.

to Top