Ada orang yang saat ditolak sekali
langsung menyerah.
Ada juga yang ditolak dua kali lalu mulai
menyalahkan keadaan.
Tapi ada satu perempuan muda dari
Australia yang melakukan sesuatu yang terdengar hampir tidak masuk
akal.
Dia ditolak lebih dari 100 investor.
Bukan satu.
Bukan sepuluh. Lebih dari seratus kali.
Dan yang lebih gila
lagi, demi mendapatkan kesempatan bertemu investor yang sulit
dijangkau, dia rela belajar olahraga ekstrem sampai tubuhnya babak
belur dihantam ombak.
Namanya Melanie Perkins. Pendiri
Canva.
Aplikasi yang hari ini dipakai jutaan orang untuk
desain, presentasi, tugas sekolah, konten media sosial, hingga
kebutuhan perusahaan besar.
Tapi sedikit orang tahu bahwa
perjalanan Canva hampir tidak pernah terjadi.
INVESTOR SILICON VALLEY MENERTAWAKANNYA
Saat masih muda, Melanie melihat satu
masalah sederhana. Software desain terlalu rumit. Orang biasa
kesulitan menggunakannya.
Dia bermimpi membuat platform desain
yang bisa dipakai siapa saja tanpa perlu menjadi desainer
profesional.
Banyak investor menganggap ide itu tidak menarik.
Menurut berbagai laporan, Melanie mendengar kata “tidak” dari
lebih dari 100 investor saat mencoba mencari pendanaan untuk
Canva.
KETIKA ORANG LAIN MENYERAH, DIA MALAH BELAJAR
KITESURFING
Melanie mengetahui bahwa salah satu investor yang
ingin ia dekati memiliki komunitas dan acara yang berhubungan dengan
kitesurfing.
Masalahnya? Dia tidak punya akses langsung. Tidak
punya koneksi. Tidak punya nama besar.
Jadi apa yang dia
lakukan? Dia belajar kitesurfing.
Bayangkan tingkat kegigihan
itu.
Banyak orang hari ini bahkan malas belajar skill baru
yang bisa dipelajari dari internet. Sementara perempuan ini rela
masuk ke lingkungan yang sama sekali asing hanya untuk membuka satu
pintu kesempatan.
KEBANYAKAN ORANG INGIN SUKSES, TAPI TIDAK
MAU TERLIHAT KONYOL
Banyak orang ingin sukses. Tapi tidak mau
terlihat bodoh. Tidak mau ditolak. Tidak mau gagal. Tidak mau
dicibir.
Padahal hampir semua kisah besar selalu terlihat
konyol di awal.
Jika Melanie berpikir seperti kebanyakan
orang, Canva mungkin tidak pernah lahir.
DUNIA TIDAK
MENGHARGAI POTENSI. DUNIA MENGHARGAI KEGIGIHAN.
Banyak orang
sebenarnya punya ide bagus, bakat, mimpi, dan kemampuan.
Tapi
kalah oleh satu hal sederhana: mereka berhenti terlalu cepat.
Kadang
perbedaan antara gagal dan berhasil bukan kecerdasan, melainkan siapa
yang bertahan lebih lama.
Kita sering mengagumi
hasil akhirnya: kekayaan, popularitas, dan kesuksesan.
Tapi
jarang ada yang mau menjalani bagian paling menyakitkan dari
prosesnya.
Karena kenyataannya, banyak orang ingin hidup
berubah. Tapi tidak banyak yang bersedia dihantam ombak berkali-kali
demi mengejar peluang yang bahkan belum tentu berhasil.
Dan
mungkin itulah alasan kenapa dunia hanya mengenal sedikit nama
besar.
Karena kebanyakan orang berhenti saat ditolak.
Sedangkan sebagian kecil lainnya memilih terus berenang, bahkan
ketika ombak terlihat lebih besar daripada harapan mereka sendiri.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Punya pertanyaan, saran, atau kritik seputar topik ini? Yuk, tulis di kolom komentar.