Perkembangan Industri Telekomunikasi di Indonesia




Telekomunikasi

Berasal dari kata; Tele, yang artinya jauh, dan Komunikasi,  yang artinya penyampaian informasi.

Telekomunikasi: penyampaian informasi atau hubungan antara satu simpul dengan simpul yang lainnya dengan mempergunakan peralatan khusus. Contoh: Telepon


Konsep Dasar Telekomunikasi

One Way System  :  dimana kedua belah pihak salah satu dapat saling berbicara atau mendengar.

Two Way System  : dimana kedua belah pihak dapat saling berbicara dan mendengar.



Sejarah Telekomunikasi Indonesia

23 Oktober 1855: telegraph diperkenalkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Telegraph menggunakan elektro magnit yang menghubungkan Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor).

1857: jaringan telegraph menjangkau Surabaya, via Semarang-Ambarawa. Tiang telegraph  didirikan di sepanjang jalur kereta api. Juga dibangun jalur kabel bawah laut antara Batavia-Singapura dan Banyuwangi-Australia


16 Oktober 1882: Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Perusahaan Post-en Telegraafdienst (pelopor PT Telkom), membangun jaringan kabel telepon lokal  Gambir-Tanjung Priok. 


1905: Dibangun jaringan kabel telepon Jakarta-Surabaya. Sebanyak 38 perusahaan terlibat dalam usaha telekomunikasi. Untuk jaringan interlokal, perusahaan pengelola mendapat konsesi selama 25 tahun.




1906: Pengelolaan jaringan telepon diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda di bawah Post, Telegraaf en Telefoon Dienst. Kecuali jaringan telepon Perusahaan Kereta Api Deli (Deli Spoor Maatschappij). Pengambil-alihan ini dilakukan karena perusahaan-perusahaan pengelola hanya beroperasi di kota-kota besar, tidak mau merambah ke kota-kota kecil.

1965: Pemerintah memisahkan jasa pos dan telekomunikasi ke dua perusahaan negara, perusaahan yang saat itu bernama PN Postel dilebur menjadi PN Pos dan Giro, dan satu lagi menjadi PN Telekomunikasi. 


1966: Pemerintah menerapkan sistem SKSD (Sistem Komunikasi Satelit Domestik) yang menjadikan Satelit sebagai tulang punggung infrastruktur Telekomunikasi.


29 September 1969: Didirikan Stasiun sebagai penyelenggara telekomunikasi internasional via Intelsat. Bekerja sama dengan International Telephone and Telegraph (ITT) dan membentuk konsorsium di bawah bendera PT. Indonesian Satellite Corporation (Indosat).

1975: Indonesia negara kedua di dunia setelah Kanada yang memakai Satelit sebagai sarana telekomunikasi. Indonesia menjadi anggota Intelsat, yang merupakan Konsorsium Telekomunikasi Satelit Internasional yang berdiri tahun 1964.    Didasari oleh Infrastruktur Telekomunikasi Indonesia saat itu yang masih menggunakan teknologi berfrekuensi tinggi (single-side band dan shortwave). 


1980-an: Pemerintah, lewat Keppres Nomor 52 tahun 1980, mengakuisisi Indosat dan menjadikan perusahaan itu sebagai BUMN. Pemerintah merogoh kocek sebesar US$ 43,6 juta untuk membeli saham ITT.




Teknologi Telekomunikasi Indonesia Saat Ini 

   
 


Gambaran Umum

Kondisi Geografis negara Indonesia dengan 17 ribu pulau dalam area 1.919.440 km2 menjadi salah satu tantangan penyebaran dan pemerataan pembangunan ICT di Indonesia.

Aspek biaya pembangunan menjadi isu utama dalam pemerataan pembangunan Infrastruktur sehingga fokus pembangunan pada wilayah yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Data jumlah satuan sambungan telepon sampai posisi Q1-2007 sebesar 8.7jt sst, dan FWA sebesar 5.9Jt atau dengan tingkat teledensitas sebesar 6.64%. Dengan 10 kota besar mengambil 40% kapasitas dan rural hanya 0.2%. Serta 60% desa belum terjangkau oleh jaringan telekomunikasi.

  
 Densitas Telepon bergerak 28.64% (63 juta) dan densitas telepon tetap dan bergerak mencapai 35.28%.
Penetrasi Internet mencapai 9.1% atau sekitar 20 juta pengguna, dan jumlah Warnet (berdasar data AWARI 2007) sebesar 7.602 dengan 70% pengguna internet di Indonesia berada di Wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Sementara data Broadband – ADSL, Fiber Optic: 100.000 pelanggan dan Mobile (EDGE, EVDO, 3G) sudah mencapai 2.000.000 pelanggan.
Penetrasi PC (personal computer) baru mencapai 6,5 juta dengan penjualan PC sebesar 1.257.531 unit (International Data Center-2006), dengan perbandingan penggunaan antara di kantor dan di rumah sebesar 5:1.
Investasi di sektor telekomunikasi sebesar Rp. 60-80 triliun.








 

Silahkan tinggalkan pesan jika Anda punya saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan.
EmoticonEmoticon