Jomblo itu Bahagia. Pemikiran ini yang Harus Kamu Tanam.




Berstatus single atau jomblo bukan berarti kamu harus terpuruk. Banyak hal yang bisa kamu lakukan saat masih 'sendiri'. 
Kamu tidak harus peduli dengan perkataan orang lain yang menyebutkan jika memiliki kekasih itu jauh lebih baik dibandingkan dengan berstatus single. Nyatanya, dunia tidak akan berakhir karena status jomblo yang kamu sandang. 

Bahkan penyandang status Jomblo dinobatkan sebagai status yang paling berbahagia dibanding mereka yang sudah menikah menurut Badan Pusat Statistik (BPS).  Dikutip dari idntimes.com Beberapa waktu lalu BPS mengeluarkan hasil survei tentang Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2017. Hasil penelitian menyebutkan bahwa sekarang ini kondisi kebahagiaan Indonesia berada dalam level “Cukup Bahagia”dengan indeks sebesar 70,69 pada skala 1-100. Semakin indeks kebahagiaan berada pada poin 100 maka semakin bahagia negara tersebut. Kabar gembiranya adalah Selamat buat kamu para jomblo indeks kebahagiaan para jomblo lebih besar dengan nilai indeks sebesar 71,53 dibanding dengan mereka yang sudah menikah yakni nilai indeksnya sebesar 71,09.


“Orang yang belum menikah itu lebih bahagia. Yang paling tidak bahagia adalah yang cerai hidup.” Kata Suhariyanto, Kepala BPS.
Lantas apa yang membuat status 'single' lebih baik daripada memiliki kekasih? inilah pemikiran yang menyatakan 'sendiri' itu lebih baik:


1. Sadari Hal apa yang paling penting dari hidup Anda dan dapatkan Makna hidup sebenarnya.

Dikutip dari WebMd, pertama-tama Anda harus tahu dulu 6 unsur kehidupan pada umumnya, Unsur-unsur ini akan menuntun Anda pada prioritas dan kebutuhan hidup. Berikut hal-hal yang harus Anda pikirkan:
  • Keuangan
  • Keluarga
  • Agama
  • Pekerjaan
  • Kesehatan
  • Gaya hidup
Coba lihat dari ke enam unsur kehidupan ini, mana yang akan menjadi prioritas Anda? Apa Anda cukup puas untuk memenuhi hal yang Anda di dalam prioritas Anda? Seumpama Anda memfokuskan diri pada pekerjaan, lihat apakah diri Anda puas dengan pencapaian di dunia kerja? Kalau belum, apakah Anda masih ingin mencapai yang lebih baik lagi? Dan kalau sudah puas, apa Anda ingin mengubah fokus prioritas Anda selain pekerjaan?
Pikirkan baik-baik, kemudian tanya pada diri sendiri tentang bagaimana Anda ingin menjalani hidup di masa depan. Ingat, bahwa tidak ada jawaban dan pendapat yang benar atau salah dalam keputusan hidup Anda. Begitu Anda memikirkan apa prioritas kehidupan ini, baiknya Anda telah memiliki pemahaman yang lebih baik tentang keadaan diri sendiri. Pemahaman ini lah yang nantinya akan membantu Anda mencari tahu dan menyesuaikan diri mengenai butuh atau tidaknya teman hidup.


2. Apa yang saya ingin dan butuhkan dari pasangan nanti?

Setelah menimbang prioritas hidup seperti di atas, barulah Anda bisa berlanjut pada apa yang Anda butuhkan kalau nanti punya pasangan. Pasalnya, kebanyakan orang tidak meluangkan waktu untuk memikirkan apa yang mereka inginkan dalam suatu hubungan.
Anda bisa membuat daftar mengenai hal yang Anda inginkan saat memiliki pendamping nanti. Seandainya, Anda ingin pasangan yang sepemikiran dan punya hobi yang sama, atau pasangan yang suka berpetualang dan berpikiran terbuka, hal itu sah-saja saja Anda pikirkan. Dengan membuat daftar seperti ini, Anda tidak harus membuang waktu untuk mencoba penjajakan pada orang lain guna mencari kecocokan tersebut.

Intinya, menjadi jomblo tidak seburuk yang Anda pikirkan

Para sosiolog telah menyatakan juga bahwa banyak orang hidup menyendiri karena memang berdasarkan pilihannya. Mereka juga merasakan kesempatan untuk menikmati hidup sesuai keinginan mereka sendiri.
Dan pastinya beberapa penelitian yang dipublikasikan dari Psychology Today menyatakan, kalau orang yang jomblo juga sama bahagianya dengan orang yang punya pasangan. Hal itu berlaku jika Anda yang lajang bisa mengatur hidup seimbang bersama adanya keluarga, teman, hobi, aktivitas, dan lingkungan fisik yang meningkatkan kebahagiaan sehari-hari mereka.


3. Belajar mencintai diri sendiri
Dikutip dari kompas.com. "Sangat menyenangkan melakukan sesuatu yang untuk seseorang yang kamu cintai, dan juga menyenangkan saat seseorang melakukan hal yang sama untukmu," kata Taitz. "

Namun daripada menunggu untuk merasakannya, cobalah melatih rasa tersebut dengan belajar mencintai diri sendiri." 

Taitz menyarankan agar kamu memperlakukan dirimu sebagaimana kamu membayangkan mencintai orang yang akan merawatmu. Misalnya saat kamu mengalami hari yang melelahkan, manjakanlah diri dengan makan malam yang enak, atau melakukan hal yang kamu sukai. 


Gantilah kritik kepada diri sendiri dengan rasa sayang terhadap diri sendiri. Ini berhubungan dengan hubungan percintaan yang sehat dan akan menambah kebahagiaan.

Menurut Julie Hanks, LCSW, terapis dari PsychCentral, langkah pertama untuk mulai belajar mencintai diri sendiri adalah dengan memerhatikan kebutuhan fisik, rohani, psikis, dan mental kita. Misalnya dengan mengetahui bahwa kita harus mendapatkan cukup tidur 7-8 jam setiap malam, makan tiga kali sehari, olahraga, hingga meluangkan waktu untuk meredakan stres dan beribadah, misalnya. Namun jangan cuma diperhatikan. 

Semua kebutuhan ini harus dipenuhi dengan cara-cara yang sehat. Misalnya, dengan memastikan menu makanan sehat, mulai berkomitmen untuk olahraga kecil-kecilan, hingga menjadwalkan waktu tidur dan tidak membiasakan begadang. Hanks juga menyarankan untuk memprioritaskan aktivitas yang membuat kita senang dan bahagia. Tidak perlu yang muluk-muluk. 


Kesenangan dan kebahagiaan bisa didapat dari hal kecil. Contohnya, jalan-jalan di taman, makan makanan yang kita suka sesekali, berendam di air hangat sambil menyalakan lilin aromaterapi, atau menonton film kesukaan di kala senggang. Meskipun terkesan remeh, hal-hal ini dapat membawa kebahagiaan dan kepuasan pada diri kita secara tidak langsung.



4. Faktanya Tidak semua pasangan itu bahagia.

Memang dapat diartikan secara konservatif, bahwa mereka yang memiliki pasangan pun belum tentu bahagia seperti saat mereka sendiri. Eksistensi dan esensi dari kebahagiaan itu relatif, walau terkadang dari segi perspektif hal ini dapat dimaklumi.
Namun bila melihat korelasinya dengan masa sekarang, sepertinya kita dipaksa untuk segera berkembang biak walau tidak bahagia. Itu semua kembali kepilihan awal kita, ada beberapa orang yang memilih menikah baru pacaran, dan ketika tidak cocok lalu bercerai, namun ada juga yang pacaran dahulu kemudian menikah. Kebahagiaan untuk sendiri/ berpasangan itu relatif, ukurannya sama seperti judi. Hanya hati kita yang merasakannya.


5. Lebih baik putus saat pacaran daripada bercerai saat menikah.

Poin keempat ini yang banyak orang sebut sebagai "takut akan bayangan", namun ada benarnya. Tidak semua pernikahan itu membawa berkah, ada beberapa yang justru merepotkan orang lain, saudara, bahkan teman hanya karena masalah ekonomi, sosial, budaya dan berakhir dengan perceraian. Bahkan ketika bercerai pun kita tetap harus menafkahi anak dan istri kita nantinya.
Ini merupakan dilema yang sejak dulu dialami banyak pasangan muda yang menikah tanpa modal. Karena itu pola pikir orang kota yang maju saat ini lebih baik sukses dahulu baru menikah, namun hal ini pun tidak menjamin saat menikah kita tidak akan jatuh miskin pula. Dan dibeberapa negara maju pola hidup bebas dan single sudah sering diterapkan, namun hasilnya tetap negatif, bahkan kembali ke jaman batu pun juga sama. Tidak ada yang pasti dan abadi di dunia ini. Hanya ada pilihan dan risiko yang harus diambil.

6. Punya Pasangan Bukan Berarti Hidupmu Aman

Jangan membayangkan bahwa dengan punya pacar hidupmu akan selalu bahagia. Berada dalam sebuah hubungan gak akan menjamin apapun. Ketika kamu punya pacar, bukan gak mungkin pasanganmu bakal selingkuh. Bahkan ketika lo sudah menikah sekalipun, mungkin saja kalian bercerai atau pasanganmu meninggal lebih dulu emoticon-Berduka 

Well… hidup adalah ketidak pastian. Masalah akan selalu datang dan menantang manusia untuk bisa menyelesaikan dan menghadapinya. Itulah alasannya kenapa manusia butuh lingkungan sosial. Kebahagiaanmu gak bisa disandarkan pada satu orang saja.
Ketika berada dalam sebuah hubungan, pastikan bahwa anda mau berkorban atas dasar rasa cinta yang anda miliki. Sebaliknya, jangan jadikan pasangan sebagai jalan keluar atas masalah dalam hidup.

7. Lebih baik jomblo daripada bareng sama orang yang tak kamu cintai. 

Hubungan itu bukan main-main. Jika kamu tidak yakin dia akan membawamu bahkan bertahan hingga ke jenjang pernikahan, banyak kejadian pasanganmu sering meminta putus namun anda mencoba terus untuk bertahan. lebih baik anda memilih untuk menolaknya. Kamu berharap bisa menjalani hubungan dengan satu orang sampai ajal memisahkan. Kamu tidak ingin sembarangan memilih pasangan karena itu hanya akan menjebakmu dalam siklus “putus-nyambung”.


Bila dengan menjadi jomblo kamu dapat menebar manfaat positif maka dengan menikahpun kamu masih bisa melipatgandakan kebermanfaatan positif ditambah lagi adanya support system dari keluarga baru. Hasil survey ini membahagiakan si jomblo namun, jangan membuat kamu takut menikah ya. Karena banyak ulasan juga kok yang mengatakan menikah lebih membuatmu bahagia.

sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/25/124328020/tetap-bahagia-meski-jomblo

image https://www.pexels.com

This Is The Newest Post

Silahkan tinggalkan pesan jika Anda punya saran, kritik, atau pertanyaan seputar topik pembahasan.
EmoticonEmoticon